Mahadaya Keangkuhan

Aku tak tahu apakah alam benar-benar berbahasa. Seperti manusia: saling menyapa, saling bicara. Yang pasti, ada yang lain dengan hujan kemarin sore. Angin yang lebih kencang, rintik yang lebih lebat, dan petir yang menyambar bergantian tanpa pengertian. Mengingatkanku pada sejarah: banjir bandang di zaman Nabi Nuh, longsornya bebatuan di zaman Nabi Luth, atau badai pasir yang menyelimut di masa Nabi Hud. Mungkinkah itu isyarat?

Continue reading Mahadaya Keangkuhan

PARIPURNA PURA-PURA

“DPR kok seperti anak TK” –Gus Dur

Perkenankan saya untuk tidak sepenuhnya sepakat dengan argumen ini. Anak TK, mereka bertengkar, saling mengejek, bercanda, dan kadang bertingkah semaunya, oleh sebab mereka belum tahu. Mereka hanya belum mengerti. Namun kalau ada orang sudah tua, sudah tahu mana baik buruk, sudah mengerti mana yang pantas dilakukan mana yang tidak, sudah dipercaya rakyat, masih bertingkah seperti itu, hipotesa saya ada dua: mereka tidak pernah sekolah, atau memang dicipta tanpa otak. Lalu, di negeri nan kaya raya namun tiada sejahtera ini, siapa lagi yang bisa kita percaya?

Continue reading PARIPURNA PURA-PURA

Ego

Bila ingat hujan semalam. Demi pepohonan yang tumbang dan daun yang rontok berjatuhan. Ingin rasanya diri ini menguap, lenyap terpilin angin. Akan kutabrakkan diriku pada dinding supertebal bernama ego yang mengungkungmu. Agar ia hancur porak poranda. Lalu akan kutemui dirimu bergerak lambat tertatih, kita akan sama-sama tahu bahwa selama ini kamu menderita.

Continue reading Ego

Survive… Survive!

Barangkali kita memang harus menyempatkan diri untuk minum air sembari menyelam. Atau boleh jadi, kita memang perlu melampaui dua pulau dalam sekali dayung. Di kehidupan serba cepat atas nama globalisasi ini, nampaknya kita dituntut  –mau tidak mau– untuk punya tangan, kaki, dan segala organ yang serba sigap untuk mendapat kesempatan mahalangka mengurai makna Continue reading Survive… Survive!

Kadar Kesadaran

Entah kenapa saya masih yakin: kebanyakan orang membeli karcis kereta api karena khawatir didenda petugas pemeriksa, bukan karena kesadaran bahwa membeli karcis adalah sebuah kewajiban yang harus kita tunaikan atas fasilitas yang kita dapatkan.Barangkali ini hipotesis yang salah, atau kurang tepat. Namun, sekali lagi, hal ini saya yakini.

Continue reading Kadar Kesadaran

(bukan) Budak Dunia

Dunia punya beragam janji pada manusia. Partikel-partikel kepuasan yang biasa disebut mimpi, atau seringkali disebut ambisi. Untuknya, dua puluh empat jam dalam sehari raga bisa dipaksa. Bibir-bibir polos yang harusnya lugu jadi penuh gincu. Berbagai macam model topeng dari berbagai bahan—besi, baja, kayu, plastik, tembikar, emas, tepung kanji, batu pahatan—dikenakan, dibawa kemana-mana, sampai kadang lupa dilepas.

—untuknya, cinta bisa kehilangan makna.

Continue reading (bukan) Budak Dunia

Memperbudak Waktu

Tiada kuasa yang lebih kudamba daripada memperbudak waktu. Melewatkannya saat duka, menghentikannya kala bahagia. Mengurai detik jadi memori manis yang tak perlu mahal-mahal kau beli, semuanya bisa saja gratis.

Tiada kuasa yang lebih kudamba daripada memperbudak waktu. Menahan matahari si luar biasa yang tak sabar ingin terbit sedikit Continue reading Memperbudak Waktu

Separuh Dirimu

Kita terpisah jauh, dan hanya bisa diam menikmati ketakberdayaan. Sambil dengan kebodohan masing-masing, kita menanti sayap yang tak jua tumbuh. Lalu kita akan berkirim surat, tanpa pernah tahu nasibnya—sampai, nyasar, atau hilang. Kita tak pernah peduli. Karena sebenarnya kita hanya ingin menulis surat untuk diri kita sendiri. Kita hanya ingin merasakan gelombang kerinduan mahadahsyat yang kita pancarkan sendiri. Itu sudah cukup. Atau bahkan, bagi kita itu lebih dari cukup.

Separuh dirimu merintih di sini. Adakah di sana kau dengar?

Continue reading Separuh Dirimu

Tuhan Pasti Bertanggung Jawab

Katanya, hidup itu pilihan. Sebuah keputusan yang boleh diambil, tidak pun silakan. Bisa saja kau memilih untuk mati. Atau koma, yang membuatmu hidup, tapi tidak hidup. Namun aku memilih untuk mengambilnya, aku memilih untuk hidup. Dan dari semua pilihan aktivitas yang disediakan dalam kehidupan ini aku memilih untuk merindukamu. Boleh-boleh saja, kan?

Memang kita belum lama saling mengenal. Tapi sah-sah saja, kan?

Kalau memikirkanmu adalah sebuah kegiatan yang komersil, aku pasti Continue reading Tuhan Pasti Bertanggung Jawab

Sampai Jumpa

Selalu ada prosesi foto-foto dengan ‘kenangan’ sebagai pembenaran. Tidak cukupkah kita sekedar menyimpan gambar dalam hati?

Semua seketika tumpah ruah. Warna warni kita berhambur mesra di bawah kilatan kamera. Segala bentuk sentak dan bentak itu sejatinya hanya riak. Pertanda, kita punya sesuatu yang besar di dalam sana—yang siap untuk menyeruak.

Entah kapan. Mungkin esok. Atau lusa. Atau nanti, saat bumi dan seisinya nyaris binasa.

Continue reading Sampai Jumpa