Ramadhan dan Kekanak-kanakan Kita

Ketika kecil, saya dan teman-teman sepermainan sangat gembira tiap kali Ramadhan datang. Sebab itu artinya, kami akan makan enak (setidaknya di hari-hari pertama), bisa main petasan tiap subuh, ditambah akan ada libur sekolah, baju baru, aneka kue nastar, ketupat sayur, kumpul keluarga, dan tentu saja yang paling dinantikan: salam tempel. Lalu dari tempelan-tempelan salam itu kami akan membeli mainan baru, entah pistol-pistolan atau gamewatch. Meski kadang kami direpotkan dengan Buku Kegiatan Ramadhan yang wajib kami isi, Ramadhan tetap saja menggembirakan. Kehadirannya seperti punya kharisma tersendiri di mata lugu kami.

“Ramadhan itu bulan pembinaan kesabaran”, kata bapak di suatu subuh, “dan sabar, itu artinya tahan terhadap godaan dan teguh terhadap tujuan.”

“Shaum, itu punya dua arti. Dalam arti pasif adalah menahan lapar, haus, dan nafsu lainnya”, katanya lagi di hari yang lain, ”sementara dalam arti aktif adalah melaksanakan Shalat Malam: memasukkan Quran dari ke dalam dada. Siang melawan lapar dan haus, malam melawan kantuk.”

Begitulah. Sementara kami para anak-anak punya cara-cara sendiri dalam menyambut Ramadhan, bapak seperti terlalu serius menghadapinya. Beliau selalu punya nasihat-nasihat yang seringkali lebih mudah dilupakan daripada dipahami.

Apakah semua orang dewasa begitu? Kadang-kadang pertanyaan semacam itu berputar-putar di kepala. Sampai akhirnya, pada satu titik, setelah saya mulai belajar memaknai hidup secara lebih dewasa, setelah saya melalui belasan Ramadhan, entah bagaimana caranya saya menyadari betapa bodoh dan congkaknya saya sebab telah melewatkan momen-momen berharga itu dengan sia-sia.

Saya seperti menemukan jawaban dari pertanyaan itu: ternyata tak semua orang dewasa begitu. Tak semua orang dewasa serius dalam menjalani Bulan Ramadhan. Sebagian masih menghadapinya dengan kegembiraan anak-anak, bahwa Ramadhan adalah pertanda akan adanya liburan, tunjangan hari raya, makanan yang berlimpah, ditambah baju baru. Sempurna.

Alhamdulillah, kita bersyukur Ramadhan (bapak saya menyebutnya VIM, Very Important Month) telah datang untuk Continue reading Ramadhan dan Kekanak-kanakan Kita

Perempuan Pendiam & Laki-laki yang Tak Peka

Perjumpaan perempuan pendiam dengan laki-laki yang tak peka adalah bencana. Adalah erupsi gunung berapi. Adalah banjir bandang. Adalah angin puting beliung. Adalah tsunami. Adalah aku dan kamu.

Aku yang tak berbakat menerjemahkan keterdiaman. Aku yang terlalu lugu—merasa bahwa semua baik-baik saja. Aku yang punya keterampilan kurang memadai dalam mengerti apa yang ada di dalam hati.

Dan kamu yang batu. Atau patung tanpa ekspresi. Tak bergerak, tak bersuara, bahkan untuk sekedar berucap ‘aduh’, atau ‘tidak’. Kamu yang diam-diam berairmata. Menangis dalam sunyi untuk menyembunyikan kesedihan. Menyimpannya sendiri di Continue reading Perempuan Pendiam & Laki-laki yang Tak Peka

Manusia & Masa Depan yang Suci

Pagi tadi, saya diundang berbagi cerita tentang pernikahan di sebuah acara yang diadakan oleh mahasiswa Universitas Gunadarma, Depok. Pada sesi tanya jawab, seorang peserta bertanya. Ia punya sahabat dengan masa lalu yang buruk, katanya, yang kini merasa telah berada di lingkungan yang baik. Namun, katanya lagi, masa lalu itu terus menghantui, dan ia jadi minder dibuatnya. Perserta itu bertanya apa yang baiknya ia sampaikan kepada sahabatnya itu agar ia kembali ‘hidup’.

Saya tidak tahu apa yang terjadi pada sang sahabat, dan kalaupun saya tahu saya tidak yakin pengalaman hidup saya memadai untuk memberikan solusi atas permasalahannya. Maka saya menjawab sekenanya saja, dan di akhir kalimat saya hanya menjawab: …masa lalu memang tidak akan pergi ke mana-mana, kita yang harus beranjak pergi meninggalkannya. Hanya itu yang saya tahu. Hanya itu pelajaran tentang masa lalu yang bisa saya ambil dari umur pendek yang pernah saya jalani.

Ketika membuat tulisan ini saya tengah merenung, mengingat kembali pertanyaan itu. Saya memang tak mengerti persoalan spesifik yang dialami sang sahabat, tapi saya seperti bisa—lebih tepatnya pernah—merasakannya: penyesalan, rasa malu, juga rasa benci pada diri sendiri yang terus mendera.

Masa lalu yang tidak terlalu baik seringkali menelan rasa percaya diri kita dalam menghadapi hidup. Tiba-tiba saja dunia menjadi tempat yang gelap, dan kita mulai berhalusinasi tentang Continue reading Manusia & Masa Depan yang Suci

Menghijaukan Hati di Taman Gurame

Setiap week-end, khususnya hari Minggu, jika memang nggak ada agenda ke luar kota saya dan Rista biasanya jalan-jalan. Sekedar jogging/badminton-an di Car Free Day Depok (di Boulvard Grand Depok City) atau ke tempat yang agak jauh seperti Kebun Raya Bogor. Kadang-kadang ke Mall juga sih kalau lagi ada perlu, yang jelas kami senang jalan-jalan. Sementara Rista suka tempat yang ramai, saya justru lebih nyaman di tempat-tempat yang sejuk dan tenang—selama ada yang jual makanan tentu saja.

Kebetulan sekali beberapa hari yang lalu saya sempat diundang mengisi sebuah acara di daerah Pancoran Mas, Depok. Panitia yang menghubungi memberikan patokan tempat acara: ‘di belakang Taman Gurame’. Awalnya, saya kira Taman Gurame itu semacam rumah makan yang menyediakan aneka olahan gurame, dan ternyata saya salah besar. Ketika sampai di tempat acara, dari luar saya melihat Taman Gurame ini semacam Taman Suropati, di sana ada beberapa keluarga jalan-jalan, atau sekedar duduk menikmati alam yang asri. Pada waktu itu baru sempat melihat dari jauh, sehingga ketika ke rumah saya membawa pulang rasa penasaran.

Pagi ini, kebetulan saya nggak ada agenda ke luar kota sehingga bisa jalan-jalan. Awalnya mau CFD-an saja, sampai tiba-tiba saya teringat kembali sama si Taman Gurame. Continue reading Menghijaukan Hati di Taman Gurame

Mengelilingi Matahari 22 Kali

Hidup ini lucu. Begitu banyak hal menyenangkan yang membuat kita seperti ingin hidup selamanya, juga tak sedikit hal menyebalkan yang diam-diam membuat kita berharap tak pernah dilahirkan. Kadang jadi anugerah, kadang dirasa musibah. Kadang kita menjalaninya dengan senyum optimisme, kadang kita hanya ingin melewatkan semuanya—saat tiap detik terasa begitu menyiksa.

Kadang-kadang kita hanya ingin menyendiri dan tak berpartisipasi dalam kehidupan ini. Menjalani sisa umur—yang tak pernah kita tahu waktu habisnya—tanpa melukai dan dilukai, tanpa dibenci atau membenci. Tanpa harapan, tanpa rasa takut kehilangan.

Tapi, untuk itukah kita dicipta?

Beberapa hari yang lalu, saya menggenapkan perjalanan mengelilingi matahari sebanyak 22 kali. Banyak, ya? Iya, banyak dan tak terasa. Entah bagaimana caranya hari ini saya sudah berada di titik ini—titik yang tak pernah saya duga, apalagi rencanakan. Ah, saya memang bukan perencana yang baik.

Dalam beberapa kesempatan saya sangat suka membuka foto-foto lama, membaca tulisan-tulisan lama, atau mendengarkan musik yang dulu sering saya putar. Rupanya telah banyak hal yang saya lewati. Betapa banyak orang yang pernah saya temui. Tak terhitung lagi luka yang pernah saya cipta, pada orang lain maupun diri saya sendiri. Tapi mengapa semua ini seperti baru kemarin?

Mengapa rasanya seperti baru kemarin saya merayakan cinta dengan seorang bidadari bernama Vidia Nuarista Annisa Continue reading Mengelilingi Matahari 22 Kali

Laut & Kebohongan-kebohongan

Laut apa yang tengah kita arungi?

Selepas indahnya pantai, katanya, akan banyak ombak besar mengerikan. Mereka yang punya daya lebih dari cukup untuk menghantam dan memisah-misahkan—menjauhkan ragamu dari pelukku. Tapi itu katanya, bukan nyatanya. Sebab kata-kata memang tak selalu nyata. Sebagian besar dari mereka hanyalah bualan, atau, barangkali semacam ketakutan pribadi yang ingin ditularkan.

Mereka yang suka menularkan ketakutan, seperti seorang anak yang karena terlalu banyak menonton film horror, ketakutan saat melewati kuburan. Lalu ia mengarang-ngarang cerita tentang hantu gentayangan yang dibangun dari hasil imajinasinya sendiri untuk membuat teman-temannya ikut merasakan ketakutan itu. Agar ia tak sendiri. Dan tentu bisa kita Continue reading Laut & Kebohongan-kebohongan

Subuh & Daun yang Basah

Pada suatu subuh saat daun masih basah, kuhirup udara di bawah remang lampu jalan. Itulah detik yang menenangkan: ketika aku melepas rindu yang kuikat semalaman bersama mata yang terpejam. Lalu hanyut aku dalam sujud-sujud kemenangan, bahwa berbagai rayuan telah mampu kukalahkan. Tanpa parang, tanpa pedang.

Belum habis subuh berjalan, senyummu terbit melangkahi matahari. Bibirmu mekar mendahului Continue reading Subuh & Daun yang Basah

Kebohongan yang Membahagiakan

For a second, I was in control
I had it once, I lost it though
And all along the fire below would rise*

Seringkali kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang terjadi: apa yang berputar-putar dalam kepalaku dan apa yang bergemuruh di dalam hatimu. Hanya ada sesuatu yang lain—semacam kehausan yang mendera tenggorokan kita. Dan aku gagap dibuatnya. Sementara kau bisu menahan kata. Keheningan jadi singgasana kita: aku raja dan kau ratunya.

 And I wish you could have let me know
What’s really going on below
I’ve lost you now, you let met go but one last time*

Kau tahu, cinta adalah mata air sementara keraguan adalah sumbatan-sumbatan yang membuatnya tak mengalir. Maka yakinkan dirimu dan biarkan aku tahu apa yang kau rasakan. Yakinkan dirimu dan biarkan aku mendengar apa yang ingin kau ucapkan. Sebab keterdiaman telah membuatku bosan, meski rindu tak jadi layu karenanya.

Tell me you love me, if you don’t then lie, oh lie to me*

Berhentilah membisu dan katakan sesuatu.

Katakan bahwa adalah cinta yang bergemuruh di dalam hatimu. Meski sesungguhnya tak seperti itu. Aku terlanjur tertipu Continue reading Kebohongan yang Membahagiakan

Anak Tangga

Bagaimana cara membuang jauh-jauh berbagai bentuk kekhawatiran yang semakin hari semakin tinggi kadarnya?

Bagaimana mengusir berbagai jenis ketakutan akan masa depan yang terus menggerus prinsip hidup—yang diam-diam mulai kita ragukan?

Bagaimana melepas kecintaan kita pada materi yang begitu berlebihan sampai-sampai membuat kita lupa pada makna?

Entahlah.

Tapi,

Continue reading Anak Tangga

Meninggalkan Masa Lalu

Sebagian manusia hidup dalam masa lalunya, pura-pura nyaman hidup dalam angan-angan yang sudah jadi kenangan.  Tangannya yang layu mendekap tubuhnya sendiri. Kakinya melangkah, tapi kepalanya terus menoleh ke belakang, berjibaku melawan waktu yang terus berjalan ke depan. Tanpa ampun. Tanpa pengertian sedikitpun.

“Gelap akan berganti terang, terang akan disusul gelap. Apa bedanya?”, katanya suatu hari. “Kalau kehidupan manusia selalu berputar dan sejarah berulang, apa bedanya masa lalu dan hari ini? Bukankah itu artinya masa depan adalah masa lalu juga sebenarnya?”

Barangkali kehidupan memang berputar. Boleh jadi sejarah memang berulang. Tapi dunia ini punya akhir. Kehidupan punya Continue reading Meninggalkan Masa Lalu

Kepastian yang Menjemukan

Dulu kau selalu bilang, kau benci ketidakpastian. Kukira, manusia kebanyakan memang begitu, utamanya perempuan. Ketidakpastian itu mencemaskan, kadang melalaikan, kadang membuat kita terburu-buru. Ketidakpastian telah menjadi semacam kekhawatiran abadi yang membuat manusia begitu ketakutan, seolah tak punya tempat perlindungan.

Berjalan lurus ke depan dengan beberapa tanjakan ringan yang sudah kita hafal memang lebih menenangkan daripada menembus hutan, menyeberangi sungai, mendaki gunung, atau mengarungi apa saja yang menantang untuk diarungi sambil mengira-ngira apa yang akan terjadi. Meski sebenarnya kita tahu jalan yang biasa-biasa saja tak ‘kan pernah mengantar kita ke puncak gunung untuk bisa menatap awan sambil menunduk.

Kini kau di sini, hidup berdampingan dengan manusia yang penuh dengan ketidakpastian. Kupikir kau akan membenciku, tapi hangat dan tulusnya senyummu berkata lain. Ia mengungkap satu pemahaman baru yang lahir dari cinta dan Continue reading Kepastian yang Menjemukan

Membicarakan Masa Depan

Jurusan apa yang akan kita ambil? Di perusahaan mana kita akan bekerja? Rumah tipe berapa yang akan kita huni? Mobil macam apa yang akan kita beli? APV, Camry, Mercy?

Dalam pembicaraan-pembicaraan soal masa depan, barangkali pertanyaan-pertanyaan itu sudah tak lagi asing, bahkan barangkali begitu sering hadir di kepala kita.

Demi masa depan yang cerah, kita melakukan segalanya. Tentu saja, karena tiap-tiap kita ingin tenang hidupnya. Tiap-tiap kita ingin menjalani hidup dengan bahagia.

Atas nama ‘masa depan yang cerah’, kita semua berlomba. Berkejar-kejaran dengan waktu, menuntaskan segala macam targetan yang menjadi syarat agar masa depan kita bisa dimasukkan ke dalam kategori ‘cerah’. Bukan suram apalagi gelap.

Dalam pembicaraan-pembicaraan soal masa depan, seringkali kita mendadak menjadi perencana Continue reading Membicarakan Masa Depan