Salah

Kali ini, biarkan aku bicara langsung pada jiwamu: tanpa sekat, tanpa tedeng, tanpa border. Untuk menanyakan apa-apa yang khawatir telah kusalahartikan. Tentang siapa merindukan siapa. Tentang siapa mengharapkan apa. Adakah kata ‘saling’ terkandung? Atau adakah hukum aksi-reaksi berlaku di sana?

Kau pernah mendengar cerita tentang orang-orang yang dibuali perasaannya sendiri? Ada buncahan suka di sana, yang nanti—secara teratur atau tiba-tiba—akan disadari, bahwa itu semua telah menenggelamkan jiwa mereka dalam kesemuan. Mengharapkan apa-apa yang sebenarnya tak pernah ada. Atau ada, tapi tak sebesar itu. Lalu, atas nama rasa malu pada dirinya sendiri, perasaan yang tidak pernah tahu apa-apa itu dibunuh. Mati lalu dikubur. Tapi tahukah kamu, bahkan semua reaksi sederhana itu tak semudah saat dituliskan?

Jadi biarkan aku bicara langsung pada jiwamu, tanpa kau halang-halangi dengan ekspresi kecil atau celetukan ringanmu. Meski harus kuakui aku menyukainya: kata-kata lugu yang kau rangkai tanpa pretensi, kau ucap seolah tanpa motif, tapi memikat.

Aku perlu tahu, tapi aku tak butuh mulutmu berkata-kata. Hanya ingin jiwamu yang bercerita.

Ya, aku perlu tahu.

Meski tak selamanya pengetahuan membuatku nyaman.

Aku hanya takut salah.

Apa kau juga ingin bicara pada jiwaku?

jj2

SaveSave

Monolog

Kita kerap terlibat dalam pergumulan hebat. Ego-cemas-ragu-takut-konflik, itu semua membuat kita dipaksa berdiri di atas sebuah sekat tipis: batas antara rela dan tidak rela. Kita mesti jatuh–atau menjatuhkan diri–ke salah satunya. Karena bila tidak, otak, benak, juga batinmu itu akan terus tergugu diserang rasa bimbang. Dan kebimbangan memang lebih menyedihkan dari penderitaan, kan? Dulu sekali kamu bilang demikian: “Ketidakpastian itu menyakitkan”. Aku masih percaya kalimat itu.

Tragedi seret menyeret memang bukan hal baru buat kita. Pergulatan semacam ini lebih rutin dari pada jadwal kamu sarapan. Ah, kamu memang susah diperingatkan. Mungkin buatmu aku juga begitu.

Dalam satu waktu yang–karena terlalu seringnya, jadi–tak pernah kita duga, hening akan hadir. Lalu kita akan saling mengira-ngira: Continue reading Monolog

Kaidah Cinta

Adakah kisah cinta yang lebih tragis di dunia ini selain legenda Qais yang jadi majnun karena Laila?

Romeo dan Juliet memang mati bersama, namun adakah Romeo menderita semerananya Qais?

Qais; petuah-petuah lembut dari orang paling bijak di dunia ini pun nampaknya ‘tak mampu membendung sungai air mata yang mengalir deras dari Sang Majnun. Ia telah menjadi batang lilin yang meleleh oleh api cintanya sendiri. Dan penderitaan menjadi harga yang harus dibayarkan atas mewahnya cinta yang ia rawat.

Continue reading Kaidah Cinta

Warna

“Aku suka melihat warna.”

“Kenapa?”

“Mereka tetap indah walau berbeda.”

“Bukankah lebih indah manusia?”

“Apanya?”

“Mereka berbeda, bukan hanya menampilkan keindahan, tapi juga mewujudkan keutuhan.”

“Kamu selalu bisa bermetafora”

“Kamu tahu kenapa?”

“Ya?”

“Karena kadang bahasa logika yang ada dan pernah tercipta di dunia ini tidak cukup untuk mewakili apa yang kita rasa.”

“Itu sih, cuma berlaku buat kamu yang suka mendramatisasi”

Kamu selalu bersikap seperti itu.

Bicara padaku seolah-olah aku Raja Gombal Cap Jempol yang suka membual. Padahal kamu yang paling tahu bahwa itulah aku yang sejati—yang selalu senang bicara tentang perumpamaan, sejarah, atau sekadar kutipan-kutipan para sastrawan. Kini kamu mulai ketularan, meski kamu tak pernah mau mengaku.

Kamu selalu bicara dan bersikap atas dasar realita, sementara aku terpaksa harus mengakui, bahwa aku percaya ada alam lain di dunia ini, tempat setiap jiwa tiba-tiba punya kecintaan pada metafora. Alam yang hanya bersedia dimasuki oleh Continue reading Warna

Jarak, Jeda, dan Waktu

Berhenti di sana. Jangan lagi kamu berjalan meski pelan-pelan. Aku takut ketika kamu jatuh, tanganku belum siap di sana untuk menangkapmu. Jadi tunggu dulu.

Tunggu. Sampai mulutku tidak lagi gagu. Sampai bicaraku lancar tanpa harus fokus pada jantung yang dengan cepat  berdebar. Aku tidak akan mengatakan kata-kata yang diucapkan kebanyakan orang. Pasaran. Bualan. Jadi biarkan aku berkreasi sambil membaca situasi, dan selama itu, silahkan kamu menunggu.

Kamu selalu bertanya dalam hati: ‘Sampai kapan?’

Sampai kamu mengerti.

Mengerti bahwa matahari tiada pernah membenci bumi, ia hanya Continue reading Jarak, Jeda, dan Waktu

Logika Tuhan

Kamu mencoba mengingat-ingat nasihat itu.

Satu-satunya warisan non-materi ayahmu sebelum ia wafat. Kamu sepertinya lupa, fatal sekali. Padahal kamu tahu, itu wasiat terakhir ayahmu. Harusnya ia bisa menjadi bekal bagimu menjalani hidup—yang kata ayahmu akan semakin berat. Tapi kamu kini lupa.

Waktu memang terasa begitu cepat bagi mereka yang takut. Begitu lama bagi mereka yang menunggu. Kamu kini ada di persimpangan itu. Titik di mana kamu menjadi manusia lemah ‘tak berdaya. Titik temu antara penantian dan ketakutan.

Kamu sedang takut dan menunggu. Dan masih belum ingat ucapan terakhir ayahmu.

“Suster, suster, anak saya sadar.. Ya Allah. Suster, suster, anak saya sadar.”

Samar-samar kamu menatap ke atas. Sambil membuka kelopak mata yang entah berapa lama sudah ‘tak terbuka, pelan-pelan. Kamu masih kenal betul suara itu. Suara ibumu. Tapi kamu masih belum sadar, sedang di mana, apa, mengapa.

26 Maret 2011, sepuluh bulan yang lalu kamu masih baik-baik saja. Sangat baik bahkan. Berkecukupan, tubuhmu sehat dan bugar. Di sana, di ruang keluarga itu, setelah merayakan ulang tahunmu, Ayah dan Ibumu asyik membicarakan pernikahanmu. “Kamu sudah 27 tahun, harus segera, nanti jadi perjaka tua. Kalau kamu belum punya calon, ayah dan ibu bisa jadi perantara. Ayah punya banyak kenalan yang punya anak sebaya denganmu. Apalagi yang kautunggu? Jodoh itu sudah ditentukan, tapi tetap harus dijemput.”, mereka selalu bilang begitu. Padahal, kamu belum mau.

Dalam pikirmu selalu berkecamuk sebuah pertanyaan: “mengapa jodoh harus Tuhan yang menentukan, toh kita sendiri, manusia, yang menjalani”. Kamu selalu meragukan apa-apa yang ditentukan oleh Tuhan. Kamu jadi takut dengan apa-apa yang Continue reading Logika Tuhan

Remang

Di sini, di ruang tamu yang belakangan jadi ruang pribadimu ini, kamu bersembunyi. Menerka-nerka suara langkah kaki, kamu pasti takut kalau-kalau itu dia. Remang, terang, intensitas cahaya dalam ruangan ini, kamu sendiri yang mengendalikan. Kamu ubah-ubah sesuai suasana hatimu, yang nyatanya lebih sering remang.

Kamu takut. Karena itu kamu sembunyi. ‘Apa salahku?’, kamu selalu membatin seperti itu. Seperti orang yang dikepung sekawanan harimau yang sudah berminggu-minggu tak dapat mangsa. Kamu selalu mendramatisasi. Ruangan itu memang lebih sering kamu buat remang.

Kamu malu. Untuk memejamkan mata pun kamu hampir-hampir tidak sanggup—kamu terlalu malu pada gelap. Kamu juga malu pada matahari, yang setia mencintai bumi dengan jaraknya. Pada laut, yang setia mengikat janji dengan pantainya. Pada salju, yang Continue reading Remang

Biar Rindu Tak Lagi Mengelus Rindu

Ada yang kurang. Seperti ada potongan cerita yang hilang. Atau terhapus. Harusnya tak berakhir begini. Tapi, inilah yang terjadi. Memang harus ada yang terluka. Dan biarlah itu aku sendiri.

Tubuhku sama sekali tidak gemetar. Tidak juga ada titik air dari mata, sekedar kaca-kaca pun tidak. Mereka bilang sakit hati lebih menyedihkan dari pada sakit gigi. Tapi aku tidak tahu benar, sedang patah hatikah aku. Hanya ada perasaan iri pada benda-benda mati yang bisa selalu berada di sampingnya. Juga pada hewan-hewan kecil yang mungkin luput dari pandangannya. Tapi mereka bisa dekat, bisa menyapa, bisa menatap. Dan bagiku itu sudah cukup.

Continue reading Biar Rindu Tak Lagi Mengelus Rindu