Tujuan Hidup

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang punya tekad begitu kuat? 

Hatinya bulat. Tanpa sudut, tanpa ragu. Hidupnya penuh iktikad.

Manakala mendamba sesuatu, ia akan habis-habisan memperjuangkannya. Tak mempan dicaci, tak acuh dimaki. 

Ia siap melakukan apa pun yang mungkin dan tak mungkin.

Hebatnya, ia melakukannya bukan tanpa perhitungan. 

Saat ingin menggapai puncak, ia tahu selalu ada kemungkinan untuk tergelincir atau tersesat. Tetapi, ia tetap mendaki. 

Continue reading Tujuan Hidup

Kelas Menulis & Self-publishing

Assalamualaikum! 🙂

Kalau kamu membaca tulisan ini, saya asumsikan kamu ingin jadi penulis. Atau sudah jadi penulis, tetapi ingin tahu seluk beluk menerbitkan buku sendiri. Bahasa kerennya, self-publishing.

Sejak 2013, menulis adalah profesi saya. Selama hampir tujuh tahun terakhir, saya sudah menulis dan menerbitkan 13 judul buku. Mereka terdiri dari novel, memoar, dan antologi prosa. Berikut judul-judul tersebut:

Bukankah royalti sebagai penulis kecil? Bagaimana bisa menjadikannya pekerjaan utama?

Royalti penulis umumnya 10%. Kecil atau besar, tergantung laku berapa eksemplar. Itu aturan yang berlaku jika kamu menerbitkan buku di penerbit mayor.

Jika kamu menempuh jalur self-publishing, kamu menentukan royaltimu sendiri.

Tetapi, bukankah menerbitkan buku sendiri itu repot?

Continue reading Kelas Menulis & Self-publishing

Curiga kepada Takdir

Saat Allah menakdirkan hatimu terluka oleh seseorang, kamu perlu curiga bahwa Allah juga sudah menakdirkan seseorang yang lain untuk membantumu sembuh.

Manakala ia datang, sambutlah dengan gembira. Namun, ketika ia mendekat dan menawarkan diri untuk membalut lukamu, katakan, “Aku akan menyembuhkannya sendiri, dan ini butuh waktu. Setelah aku pulih, aku siap dengan kehidupan baru denganmu.

Continue reading Curiga kepada Takdir

Saat Hidup Bersamanya

Ketika hidup bersama dengan seseorang, kamu harus mengapresiasi kelebihannya sekaligus menerima setiap kekurangannya. Tetapi, tak cukup sampai di sana. Kamu dan dirinya harus berkomitmen untuk terus bertumbuh, agar hidup tak jua menyentuh titik jenuh.

Genggam tangannya, berjalanlah bersama dan nikmati aneka petualangan baru yang menanti. Tataplah masa depan dengan mata yang menyala dan tetaplah berbaik sangka atas setiap kepastian-Nya.

Ketika hidup bersama dengan seseorang, kamu harus ingat bahwa menyampaikan kebaikan di waktu yang tidak tepat itu tidak baik. Ada waktu ketika yang dibutuhkan teman hidupmu hanyalah telinga untuk mendengar dan bahu untuk bersandar. Ada waktu ketika yang dibutuhkan teman hidupmu hanyalah ruang untuk merenung dan menangis sendiri.

Hidup ini penuh dengan ketidaksempurnaan, sebab itu butuh banyak pemakluman.

Ketika hidup bersama dengan seseorang, kamu bukan cuma harus memahami kata-katanya saat bicara. Kamu juga perlu mengerti arti diamnya. Kadang, ada pesan-pesan penting yang disampaikan justru dengan diam.

Tak selamanya luka berdarah, tak selamanya tangis berair mata. Bersikaplah lebih peka.

Ketika hidup bersama dengan seseorang, setiap masalah yang hadir adalah sarana untuk saling menguatkan. Setiap takdir yang mampir adalah kesempatan untuk mencipta kenangan yang berkesan. Kelak setelah menua, momen-momen itu ‘kan jadi alasan untuk terus bersama. Atau semacam pengingat, betapa hidupmu akan berbeda jika dilalui tanpanya.

Continue reading Saat Hidup Bersamanya

Perihal Jodoh

Aku tak pernah berhenti meyakini bahwa jodoh adalah orang yang kita pilih untuk kita cintai.

Ia bisa saja dipilihkan orang lain. Tetapi jika kamu setuju, itu artinya kamu juga memilihnya.

Ia jelas tak boleh sempurna. Agar kamu menemukan ruang untuk berarti bagi hidupnya.

Ia mungkin menyembunyikan luka. Dan itu berarti ia butuh tanganmu untuk membalutnya.

Bersamanya, kamu akan merayakan apa saja: sedih dan bahagia … tawa dan air mata … lega dan kecewa.

Ia bisa jadi orang yang saat ini belum kamu kenal sama sekali, atau boleh jadi seseorang yang sudah sering kamu temui.

Tetapi, percayalah …

Continue reading Perihal Jodoh

Kado yang Tak Boleh Dibuka

Sejak dulu sekali, patah hati telah menjadi sebuah pandemi.

Begitu banyak manusia, barangkali termasuk kita, jatuh cinta pada seseorang yang tak pernah bisa dimiliki. Dan seringkali, hal itu terjadi begitu saja. Di luar kendali, tanpa antisipasi sama sekali.

Entah karena terlalu lemah, atau merasa seseorang itu memang tak mungkin diperjuangkan, kita memilih untuk jatuh cinta diam-diam saja. Memerhatikannya dari jauh, mengamati dalam sunyi. Lalu dengan sok bijak, kita berkata dalam hati, “Beberapa hal memang lebih baik tak terucap. Biar tetap jadi rahasia. Nyala lilin yang dijaga dari tiupan angin.”

Sering kali kita berusaha tak peduli. Tetapi, bisa memastikan bahwa ia baik-baik saja, tetap saja lebih menentramkan hati. Dan saat mendengar kabar bahwa Continue reading Kado yang Tak Boleh Dibuka

Mengakui Kesalahan

Hebat betul kita ini.

Saat hidup berjalan sesuai rencana, saat salah satu target hidup tercapai, ketika satu dari sekian mimpi dapat diwujudkan, kita menepuk dada. Dengan penuh dramatisasi, kita akan bercerita betapa kita telah berjuang keras untuk mendapatkannya. Dengan yakin, kita menjelaskan strategi-strategi jitu yang kita jalankan untuk menggapainya. Biar orang-orang kagum dan terinspirasi.

Namun, saat kita menghadapi kegagalan, saat target kita jauh panggang dari api, ketika mimpi tak jua terwujud nyata, kita menyalahkan dunia. Dengan terampil, kita menunjuk berbagai pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan itu. Dengan fasih, kita menjabarkan berbagai fenomena eksternal yang menghambat kita untuk menggapai keberhasilan.

Atau, kita tidak menyalahkan siapa-siapa, tetapi berupaya menipu diri sendiri dengan kebohongan yang manis. Bahwa sejak awal kita tak benar-benar menginginkannya. Seperti seorang pemancing yang berusaha mendapatkan ikan sebesar paha tetapi setelah seharian memancing yang ia dapatkan cuma ikan seukuran pergelangan tangan lalu berkata kepada diri, “Aku memang mengincar ikan ini. Ikan kecil lebih mudah dibawa dan dimasak. Juga, biasanya lebih enak.”

Menyalahkan orang lain dan menipu diri berbagi satu karakter yang sama: keengganan untuk mengakui kesalahan pribadi.

Continue reading Mengakui Kesalahan

Mereka yang Terus Dicetak Ulang

Enam tahun lalu setelah menyelesaikan naskah Novel Tuhan Maha Romantis, saya membayangkan ini: saya akan menghabiskan hari-hari saya bersama tumpukan buku, layar laptop, sekumpulan data riset, dan imajinasi yang antre untuk dituliskan.

Kini hal tersebut bukan lagi sekadar bayangan, melainkan benar-benar telah jadi keseharian. Saya hidup sebagai penulis. Dan menerbitkan buku adalah hal yang rutin saya lakukan paling tidak sekali dalam setahun.

Namun, lucunya, saya masih saja terharu setiap melihat karya lama saya dicetak ulang. Terutama di tahun 2020 ini, saat novel Tuhan Maha Romantis (2014) dicetak ulang yang ke-10 dan novel Konspirasi Semesta (2016) dicetak ulang yang ke-5. Melihat wajah baru mereka, wah, rasanya tak tergambarkan.

Lihatlah … Betapa keduanya tampak indah dan serasi. :’)

Dwilogi Tuhan Maha Romantis dengan wajah baru ini bisa dipesan pada 1-3 Juli 2020. Ada Edisi TTD + Bonus Totebag untuk 500 Pemesan Pertama. Jika kamu berniat mengoleksi, kamu bisa daftar waitinglist dari sekarang.

Caranya, klik tombol ‘Daftar Waitinglist’ di bawah ini:

Yang Terlewatkan

Ada nama yang tak seharusnya kita kenang, tetapi sulit dilupakan. Ia yang pernah singgah di hati, tetapi tiba-tiba pergi tanpa waktu kembali yang pasti. Kita merasa kehilangan, tetapi tak cukup percaya diri untuk benar-benar mencari.

Senyum manis, tatapan teduh, dan semua yang kita ingat tentangnya tertinggal di masa lalu. Sementara waktu cuma mau bergerak maju.

Waktu tak peduli. 
Tak ingin mengerti. 
Dan yang pasti, tak akan pernah bisa diputar kembali.

Terkadang, takdir berbaik hati mempertemukan kembali kita dengannya. Sayangnya, segalanya sudah tak lagi sama. Bahkan ketika rasa masih ada, ia sudah tak lagi punya daya.

Continue reading Yang Terlewatkan

Dipaksa Sembuh

Barang apa yang saat ini begitu kita inginkan? Apakah kita benar-benar menginginkannya? Apakah kita yakin dengan memiliknya, hidup akan jauh lebih bahagia?

Jika saat ini kita bisa mendapatkannya, barangkali betul: kita akan merasa lebih bahagia.

Namun, tahukah kamu? Dalam satu atau tiga bulan ke depan, perasaan kita akan kembali ke keadaan semula. Kita akan menginginkan sesuatu yang lain, dan meyakini bahwa kita akan bahagia jika bisa memilikinya.

Ini adalah siklus yang tidak pernah berakhir.

Untungnya, sepertinya hal ini juga berlaku untuk kesedihan.

Saat merasa kehilangan …
Saat tiba-tiba ditinggalkan …
Saat mengalami keterpisahan …

Continue reading Dipaksa Sembuh