Sedikit Jarak

Hidup seringkali membenturkan diri kita pada satu dinding masalah yang bukan cuma menghentikan langkah, tetapi juga menghalangi pandangan mata. Kita bingung, tak tahu harus berbuat apa. Rasanya, dinding itu terlalu kuat, besar, dan mustahil untuk dimusnahkan.

Pada saat-saat seperti itu, yang perlu kita lakukan barangkali hanyalah mengambil sedikit jarak. Agar bisa melihatnya lebih utuh.

Dengan begitu, kita akan sadar:

Continue reading Sedikit Jarak

Isyarat Langit

Kita sering melihat sebuah kejadian—perjumpaan, keberjarakan, perpisahan, hingga tragedi kematian—sebagai satu hal tunggal. Satu peristiwa independen yang membuat kita begitu khawatir akan masa depan sebab kita merasa tak punya kendali atasnya.

Padahal, apa-apa yang ada di semesta ini terkait satu sama lain. Kejadian satu, adalah akibat dari kejadian lain yang terjadi sebelumnya. Dan di atas semua itu, setiap peristiwa berlangsung menurut kehendak-Nya.

Salah satu ciri keimanan, barangkali ada di sana. 

Continue reading Isyarat Langit

Pemahaman Butuh Jeda

Untung saja dulu aku mengalaminya. Kalau tidak, bisa-bisa sekarang aku …

Seberapa sering kalimat semacam itu terlontar dari mulut, atau sekadar terlintas di dalam pikiran kita? Kita mensyukuri sebuah kejadian di masa lalu. Padahal, dulu pada saat kejadian itu berlangsung, kita menangis sejadi-jadinya. 

Kita marah.

Kita protes.

Kita kecewa.

Continue reading Pemahaman Butuh Jeda

Renungan Ujung Tahun

Bagaimana cara membuang jauh-jauh berbagai bentuk kekhawatiran yang semakin hari semakin tinggi kadarnya?

Bagaimana mengusir berbagai jenis ketakutan akan masa depan yang terus menggerus prinsip hidup—yang kadang-kadang sering kita ragukan?

Bagaimana melepas kecintaan kita pada materi yang begitu berlebihan sampai-sampai membuat kita lupa pada makna?

Entahlah …

Tapi …

Continue reading Renungan Ujung Tahun

Tenggelam di Media Sosial

Di era media sosial ini, orang berbagi apa saja setiap detik seolah tak ingin memberi ruang untuk rasa rindu. Kamu boleh saja menggunakannya, memanfaatkannya untuk aneka kebaikan. Tapi, jangan sampai tenggelam di sana.

Di sekitarmu, ada orang-orang yang setia menanti senyum tulusmu.

Di sampingmu, ada jemari yang rindu genggaman tanganmu.

Continue reading Tenggelam di Media Sosial

Membanding-bandingkan

Gore Vidal, seorang penulis Amerika, pernah berkata di dalam suatu wawancara, “Setiap kali seorang teman sukses, sebagian kecil diriku mati.”

Kita, barangkali adalah Gore Vidal yang memilih untuk tidak mengekspresikan perasaan kita. Perasaan yang halus dan jarang diakui, tetapi ada. Ia muncul malu-malu saat seorang teman mengalami peningkatan taraf hidup, membeli barang yang sudah lama kita impikan, atau berbahagia atas sebuah pencapaian. 

Perasaan—yang tidak kita akui—itu, seringkali lahir dari rahim pembandingan. Mengapa korbannya lebih sering teman, atau orang di lingkaran kita sendiri? Sebab kita hanya membanding-bandingkan diri dengan mereka yang mirip dengan kita dalam hal usia, lingkungan, karier, dan pendidikan. 

Kita masa bodoh dengan pencapaian orang-orang di luar jangkauan. Atau, kita peduli, tetapi dengan terampil menghibur diri: “Wajarlah, dia kan …”, “Enggak kaget sih, orang dia …”, dan sebagainya. Terhadap mereka, tak ada upaya membanding-bandingkan, tak ada ‘sebagian kecil diri yang mati.’ 

Dan bukankah tanpa pembandingan, hidup jauh lebih tenang?

Maka, sesegera mungkin, kita perlu berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Apalagi jika menggunakan kaca mata media sosial, yang isinya telah dipilih secara teliti untuk menciptakan kesan tertentu yang terkadang palsu. 

Continue reading Membanding-bandingkan

Kamu Tahu

Kamu barangkali sering merasa cemas. Tetapi, kamu tahu, setiap orang juga merasakan kecemasan. 

Kamu boleh jadi sedang merasa takut. Tetapi, bukankah kamu tahu setiap orang juga punya ketakutan di dalam dirinya?

Berhenti mendramatisasi. 
Berhenti mengasihani diri sendiri.

Sebab, kamu tahu, kamu bisa lebih baik dari ini. Kamu tahu persis, kamu belum mengeluarkan potensi terbaikmu. Kamu juga sudah tahu kesalahan-kesalahan yang harus kamu perbaiki.

Continue reading Kamu Tahu

Sekotak Kado Rahasia

Ada waktu kita jatuh cinta. Ketika tak cukup lagi rasa digema dalam kata. Ketika rembulan selalu tampak bulat sempurna. Ketika duka-duka bisa dilupa. Saat perih pedih luka bisa ditunda untuk sementara. Dan hidup adalah padu padan warna yang begitu bernyawa.

Ada waktu kita patah hati. Hidup serasa permen karet yang telah habis gulanya. Yang tersisa untuk dicecap adalah hambar atau pahit. Hambar atau pahit dan bukan manis. Kita begitu ingin membuangnya, tapi tak punya apa-apa lagi untuk dikunyah. Tak punya topeng untuk terlihat baik-baik saja.

Ada waktu kita harus pergi. Berjalan saling menjauh membawa sekotak koper besar berisi rindu. Tanpa kalimat perpisahan. Tanpa lambai tangan. Dan yang terpedih, tanpa kesepakatan yang menenangkan.

Ada waktu kita saling menunggu. Menebak-nebak keajaiban macam apa yang sudi menghampiri dua manusia penuh dosa yang telanjur jatuh cinta.

Continue reading Sekotak Kado Rahasia

Bahagia adalah Cara Hidup

Kamu sedang lelah berjuang.

Kamu telah merangkak, berjalan, berlari, demi menyusuri jalan panjang yang dulu kamu yakini.

Kamu juga sudah banyak berkorban: waktu, tenaga, pikiran, kesempatan-kesempatan kecil untuk rebahan.

Tetapi, hidup memang tak selalu berjalan sesuai harapan. Rupanya, semakin jauh jalan itu kamu tempuh, semakin tampak itu hanyalah jalan buntu. Apa-apa yang kamu harap ada di sana, apa-apa yang kamu kira akan membuatmu bahagia, ternyata cuma fatamorgana.

Lalu, kamu barangkali mulai berpikir untuk berhenti dan mencari jalan lain.

Tidak apa-apa. Sungguh, tidak apa-apa.

Bahkan jika kamu hendak berputar arah sekarang juga, lakukan saja.

Tak ada yang sia-sia.

Barangkali, Allah ingin memberimu lebih banyak pengalaman. Yang sudah pasti berarti bagimu. Kini, ataupun nanti.

Kita cuma manusia lugu, sementara Allah Continue reading Bahagia adalah Cara Hidup