Terbuang, Berulang

Kita melihatnya secara tiba-tiba di layar ponsel. Atau mendengarnya secara tak sengaja dari sebuah percakapan. Atau, melihatnya dikenakan oleh seseorang yang kita kagumi. Lalu, tiba-tiba kita ingin memilikinya juga.

Kita mulai menggali semua informasi tentangnya: sejarah, harga, variasi, lebih dan kurangnya, di mana dan bagaimana kita bisa mendapatkannya. Kita tahu harga yang harus dibayarkan tak masuk hitungan, tapi fakta itu selalu kalah oleh keyakinan bahwa memilikinya, dengan cara apa pun, akan mendatangkan kebahagiaan. Dan bukankah kebahagiaan adalah hal terujung yang ingin kita gapai?

Lalu kita memaksakan diri. Kita membelinya, dan senang bukan main ketika hal itu benar-benar kita miliki. Saat itu kita merasa, ‘inilah kebahagiaan sejati’.

Sayangnya, itu tak berlangsung lama. Kita mulai sadar bahwa kita tak benar-benar membutuhkannya. Dan telah menjadi pengetahuan umum bahwa, setiap hal yang kita miliki tetapi tak kita butuhkan hanya akan menjadi beban. Lalu, yang tersisa adalah penyesalan. Kita mulai merasa bodoh. Dan berjanji kepada diri sendiri bahwa kita tak kan mengulanginya lagi. Amit-amit jabang bayi!

Sebulan kemudian, kisah itu berulang.

Published by

nurun ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s