Terbit April 2019: Belajar Mencintai

Blogsd

Lima tahun lalu, di penghujung usia 20 tahun, aku menikah. Aku masih berstatus mahasiswa sarjana, sudah berpenghasilan tetapi tidak tetap, bukan anak konglomerat, dan aku … menikah. 10 November 2013, seorang diri aku menginjakkan kaki di Gresik, mengetuk sebuah rumah, dan menyatakan kepada sang pemilik rumah bahwa aku ingin dan akan menikahi anak perempuan cantiknya. Empat bulan kemudian, kami resmi menjadi sepasang suami-istri.

Jika rumah tangga adalah bahtera yang kami naiki untuk menuju Pulau Cita, telah genap lima tahun kami berlayar. Lima tahun itu kira-kira sama dengan 60 purnama, 240 akhir pekan, 1.825 senja, dan 6.570.000 detik. Itu waktu yang telah kami habiskan bersama sebagai sepasang suami-istri. Belum cukup panjang memang, tetapi juga tak bisa dikatakan singkat.

Meski lima tahun terakhir adalah lima tahun terbaik dalam hidupku, perjalanan kami tak selalu mudah. Ada saja gelombang-gelombang yang harus kami taklukkan. Sesekali, bahkan badai datang tanpa tanda atau aba-aba. Untuk itu, suka duka di dalamnya, terutama bagaimana upaya kami membangun hubungan yang harmonis di tengah beragam situasi, kuabadikan di dalam memoar ini. Sebagai kenangan, syukur-syukur jika darinya bisa dipetik pelajaran.

Buku ini terdiri dari sepuluh bab dan dilengkapi dengan prolog dan epilog. Masing-masing bab menceritakan momen-momen paling berkesan selama lima tahun berumah tangga dan pelajaran-pelajaran penting yang bisa diambil dari kejadian-kejadian di dalamnya. Misalnya, di bab ‘Jatuh Cinta vs Mencintai’ aku menceritakan transformasi besar dari ‘orang yang sedang jatuh cinta’ menjadi ‘orang yang mencintai’. Lalu, di bab ‘Cinta itu Tumbuh dan Menumbuhkan’ aku bercerita tentang bagaimana kami melewati masa-masa awal pernikahan dengan keterbatasan ekonomi. Di bab ‘Saling Mengenal Tanpa Akhir’ aku bercerita bagaimana kami belajar untuk berusaha memahami bahwa laki-laki dan perempuan memang diciptakan berbeda, termasuk bagaimana kami menyiasati hal itu.

Ada pula cerita tentang bagaimana meyakinkan orang tua dan calon mertua untuk menikah di usia yang terbilang muda, kehidupan rumah tangga setelah diamanahi anak, menjaga hubungan baik dengan orang tua dan mertua, pertengkaran-pertengkaran yang terjadi dan bagaimana kami menyelesaikannya, jatuh-bangun merintis usaha bersama, serta bagaimana kami mengantisipasi perasaan jenuh terhadap pasangan di dalam bab ‘Jatuh Cinta Setiap Hari’.

Di dalam buku setebal 260 halaman ini juga terdapat satu bab terpanjang berjudul ‘Pernikahan & Sepaket Kejutan’ yang ditulis oleh istriku, Vidia Nuarista Annisa Larasaty. Ia menceritakan bagaimana menjaga hatinya selama belum menikah, proses taaruf & perasaannya ketika dilamar, pengalamannya menikah dengan laki-laki yang lebih muda, suka duka menjadi ibu rumah tangga, serta merangkum perjalanan cinta kami hingga hari ini dari sudut pandangnya sendiri sebagai seorang istri, ibu, sekaligus perempuan dengan begitu jujur.

Tentu saja, ini bukan buku panduan. Ini hanyalah cerita tentang bagaimana kami yang masih hijau belajar membangun rumah tangga yang harmonis. Ini juga bukan sekadar buku curhat. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling jatuh cinta belajar mencintai.

***

Pesan buku Belajar Mencintai di sini.

Published by

nurun ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s