Bahagia adalah Cara Hidup

Kamu sedang lelah berjuang.

Kamu telah merangkak, berjalan, berlari, demi menyusuri jalan panjang yang dulu kamu yakini.

Kamu juga sudah banyak berkorban: waktu, tenaga, pikiran, kesempatan-kesempatan kecil untuk rebahan.

Tetapi, hidup memang tak selalu berjalan sesuai harapan. Rupanya, semakin jauh jalan itu kamu tempuh, semakin tampak itu hanyalah jalan buntu. Apa-apa yang kamu harap ada di sana, apa-apa yang kamu kira akan membuatmu bahagia, ternyata cuma fatamorgana.

Lalu, kamu barangkali mulai berpikir untuk berhenti dan mencari jalan lain.

Tidak apa-apa. Sungguh, tidak apa-apa.

Bahkan jika kamu hendak berputar arah sekarang juga, lakukan saja.

Tak ada yang sia-sia.

Barangkali, Allah ingin memberimu lebih banyak pengalaman. Yang sudah pasti berarti bagimu. Kini, ataupun nanti.

Kita cuma manusia lugu, sementara Allah Continue reading Bahagia adalah Cara Hidup

Di Hadapan Pintu-pintu

Ada yang lebih suka berdiri di depan pintu yang tertutup, sambil berharap suatu waktu pintu itu akan terbuka.

Ia adalah orang yang sudah begitu yakin bahwa di balik pintu itu—dan hanya di balik pintu itu—apa yang ia inginkan berada. Ia memeluk erat harapan dan punya tabungan kesabaran yang cukup untuk menunggu.

Ada yang memilih berkeliling, berkelana, berjumpa dengan banyak pintu.

Jika ada pintu yang terbuka dan tampaklah sesuatu yang indah di dalamnya, ia akan menuju ke sana. Kalau ternyata pintu itu tertutup sebelum ia tiba, ia akan bersedih sebentar, lalu segera beranjak untuk mencari pintu yang lain. Ia percaya, kesempatan adalah harapan dalam bentuk yang paling nyata.

Daripada menunggu, ia memilih berjalan menuju.
Daripada menerka, ia memilih Continue reading Di Hadapan Pintu-pintu

Tahun yang Buru-buru

Ini adalah tahun yang singkat. Rasa-rasanya, baru kemarin menyaksikan aneka perayaan tahun baru, tiba-tiba tahun sudah akan berganti lagi. Sebagian besar resolusi, akan dicanangkan kembali sebagai resolusi.

Ini juga tahun yang buru-buru. Rasa-rasanya, daftar kegiatan harian selalu padat. Tetapi, dasar aku, berleha-leha masih saja sempat. Jadilah beban bertumpuk dan semakin lama semakin berat. Akhirnya, daftar kegiatan harian jadi bertambah padat.

Di antara lingkaran setan itu …

Di sela kepadatan aktivitas itu …

Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat …

Bersama ‘perasaan tertinggal’ yang betah berumah dalam Continue reading Tahun yang Buru-buru

Terbit Desember 2019: Jangan Dulu Patah

Jangan dulu patah. Masih ada waktu. Masih tersedia ruang untuk bergerak dan mencoba. Masih ada kesempatan untuk melakukannya sekali lagi, atau mungkin beberapa kali.

Jangan dulu redup. Nyalakan lagi api harapan di bola matamu. Panggil kembali ingatan-ingatan tentang kesungguhanmu yang dulu. Utuhkan kembali niat mulia yang sempat mengisi penuh hati dan kepalamu, mewarnai siang dan malammu.

Jangan, jangan dulu menyerah. Setidaknya, jangan sekarang. Jangan di usia semuda ini. Nalarmu masih tajam. Jiwamu masih kuat. Tenagamu Continue reading Terbit Desember 2019: Jangan Dulu Patah

Terbuang, Berulang

Kita melihatnya secara tiba-tiba di layar ponsel. Atau mendengarnya secara tak sengaja dari sebuah percakapan. Atau, melihatnya dikenakan oleh seseorang yang kita kagumi. Lalu, tiba-tiba kita ingin memilikinya juga.

Kita mulai menggali semua informasi tentangnya: sejarah, harga, variasi, lebih dan kurangnya, di mana dan bagaimana kita bisa mendapatkannya. Kita tahu harga yang harus dibayarkan tak masuk hitungan, tapi fakta itu selalu kalah oleh keyakinan bahwa memilikinya, dengan cara apa pun, akan mendatangkan kebahagiaan. Dan bukankah kebahagiaan adalah hal terujung yang ingin kita gapai?

Lalu kita memaksakan diri. Kita membelinya, dan senang bukan main ketika hal itu benar-benar kita miliki. Saat itu kita merasa, Continue reading Terbuang, Berulang

Terbit April 2019: Belajar Mencintai

Blogsd

Lima tahun lalu, di penghujung usia 20 tahun, aku menikah. Aku masih berstatus mahasiswa sarjana, sudah berpenghasilan tetapi tidak tetap, bukan anak konglomerat, dan aku … menikah. 10 November 2013, seorang diri aku menginjakkan kaki di Gresik, mengetuk sebuah rumah, dan menyatakan kepada sang pemilik rumah bahwa aku ingin dan akan menikahi anak perempuan cantiknya. Empat bulan kemudian, kami resmi menjadi sepasang suami-istri.

Jika rumah tangga adalah bahtera yang kami naiki untuk menuju Pulau Cita, telah genap lima tahun kami berlayar. Lima tahun itu kira-kira sama dengan 60 purnama, 240 akhir pekan, 1.825 senja, dan 6.570.000 detik. Itu waktu yang telah kami habiskan bersama sebagai sepasang suami-istri. Belum cukup panjang memang, tetapi juga tak bisa dikatakan singkat.

Meski lima tahun terakhir adalah lima tahun terbaik dalam hidupku, perjalanan kami tak selalu mudah. Ada saja gelombang-gelombang yang harus kami taklukkan. Sesekali, bahkan badai datang tanpa tanda atau aba-aba. Untuk itu, suka duka di dalamnya, terutama bagaimana upaya kami membangun hubungan yang Continue reading Terbit April 2019: Belajar Mencintai

Jangan Dulu Patah

Jangan dulu patah. Masih ada waktu. Masih tersedia ruang untuk bergerak dan mencoba. Masih ada kesempatan untuk melakukannya sekali lagi, atau mungkin beberapa kali.

Jangan dulu redup. Nyalakan lagi lampu harapan di bola matamu. Panggil kembali ingatan-ingatan tentang kesungguhanmu yang dulu. Utuhkan kembali niat mulia yang sempat mengisi penuh hati dan kepalamu, mewarnai siang dan malammu.

Jangan, jangan dulu menyerah. Setidaknya, jangan sekarang. Jangan di usia semuda ini. Nalarmu masih tajam. Jiwamu masih kuat. Tenagamu masih berlimpah. Memang belum saatnya kamu hidup nyaman. Memang masih banyak jatah gagal yang Continue reading Jangan Dulu Patah

Orang yang Tepat

Barangkali, kita ini sering salah paham. Kita mengira, untuk menjadi pecinta yang baik, satu-satunya yang dibutuhkan adalah seseorang yang tepat. Seolah-olah, mendapati seseorang yang kita kagumi di sisi kita adalah kunci menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia.

Ini seperti seorang calon koki yang mengira bahwa satu-satunya yang dibutuhkan untuk menjadi koki yang hebat adalah bahan makanan pilihan yang mahal dan berkualitas tinggi. Atau seorang yang ingin jadi pelukis, namun yang dilakukannya hanyalah menunggu objek yang tepat. Dengan begitu, dikiranya, ia bisa mencipta lukisan yang indah.

Padahal, kalau kita belajar memasak dengan baik, lalu menjadi koki yang Continue reading Orang yang Tepat

Relakan Saja

Jika seseorang yang kamu inginkan berusaha menjauhimu, mungkin baginya kamu memang payah. Ia punya standar yang gagal kamu penuhi, karena itu ia pergi. Relakan saja. Bila perlu, beri ia sayap agar dapat terbang sejauh yang ia mau.

Setidaknya, dengan begitu, kamu punya ruang untuk introspeksi diri. Merenung tentang hal-hal yang harus kamu perbaiki.

Setidaknya, dengan begitu, kamu punya keleluasaan untuk menemukan seseorang yang lain. Menanggalkan kaca mata kuda yang selama ini kamu kenakan dan mulai mencari dengan sudut pandang lebih luas. Pasti ada seseorang di sana. Yang kamu inginkan dan menginginkanmu. Yang kamu hargai dan menghargaimu. Yang kamu terima kelemahannya dan bersedia memaafkan ketidaksempurnaanmu.

Pasti ada seseorang di sana, yang hatimu bergetar kala menatapnya dan tersipu saat kamu memujinya. Ia yang tak rela membiarkan Continue reading Relakan Saja

Tentang Jodoh, untuk Para Perempuan

Pernikahan kami belum genap lima tahun. Kemampuan kami dalam membina rumah tangga, belum benar-benar teruji. Pelaksanaan tanggung jawab saya sebagai suami dan ayah, masih kurang di sana-sini. Wawasan saya soal hubungan asmara, terbatas pada pengalaman yang singkat plus sedikit buku yang saya baca.

Tapi, kalau diminta memberi satu nasihat tentang jodoh oleh seorang perempuan, saya akan sampaikan ini:

Jangan menikah dengan laki-laki yang ingin kamu mencintainya sebagaimana ibunya mencintainya. 

Laki-laki yang terobsesi untuk mendapat pasangan seperti itu, adalah seorang yang kekanak-kanakan. Ia akan selalu menganggap dirinya seorang anak yang bisa setiap saat mendapat cinta tanpa syarat dari sang ibu. Ia ingin dicintai, tetapi tidak pernah belajar mencintai. Ia ingin dimengerti, tetapi tak berusaha untuk mengerti. Ia berharap bisa terus menerima, tetapi lupa memberi. Ia mungkin akan melakukan kesalahan demi kesalahan, kemudian berlindung di balik tameng pemakluman.

Lagipula, tak ada yang bisa menandingi cinta seorang ibu.

Sepasang kekasih bisa saling mencintai, karena mereka yakin: dengan saling memberi, dengan saling mendukung, kebersamaan mereka akan semakin langgeng. Itu cinta yang menyatukan. Tetapi, seorang ibu mencintai anaknya tanpa syarat, merawat, mendidik, menumbuhkan, hanya untuk berhadapan dengan kenyataan bahwa anak itu akan tumbuh dewasa, mandiri, dan perlahan-lahan akan melepaskan diri darinya.

Seorang ibu akan terus mencintai anaknya, apa pun yang terjadi. Dan kamu tidak akan Continue reading Tentang Jodoh, untuk Para Perempuan