Kado yang Tak Boleh Dibuka

Sejak dulu sekali, patah hati telah menjadi sebuah pandemi.

Begitu banyak manusia, barangkali termasuk kita, jatuh cinta pada seseorang yang tak pernah bisa dimiliki. Dan seringkali, hal itu terjadi begitu saja. Di luar kendali, tanpa antisipasi sama sekali.

Entah karena terlalu lemah, atau merasa seseorang itu memang tak mungkin diperjuangkan, kita memilih untuk jatuh cinta diam-diam saja. Memerhatikannya dari jauh, mengamati dalam sunyi. Lalu dengan sok bijak, kita berkata dalam hati, “Beberapa hal memang lebih baik tak terucap. Biar tetap jadi rahasia. Nyala lilin yang dijaga dari tiupan angin.”

Sering kali kita berusaha tak peduli. Tetapi, bisa memastikan bahwa ia baik-baik saja, tetap saja lebih menentramkan hati. Dan saat mendengar kabar bahwa Continue reading Kado yang Tak Boleh Dibuka

Mengakui Kesalahan

Hebat betul kita ini.

Saat hidup berjalan sesuai rencana, saat salah satu target hidup tercapai, ketika satu dari sekian mimpi dapat diwujudkan, kita menepuk dada. Dengan penuh dramatisasi, kita akan bercerita betapa kita telah berjuang keras untuk mendapatkannya. Dengan yakin, kita menjelaskan strategi-strategi jitu yang kita jalankan untuk menggapainya. Biar orang-orang kagum dan terinspirasi.

Namun, saat kita menghadapi kegagalan, saat target kita jauh panggang dari api, ketika mimpi tak jua terwujud nyata, kita menyalahkan dunia. Dengan terampil, kita menunjuk berbagai pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan itu. Dengan fasih, kita menjabarkan berbagai fenomena eksternal yang menghambat kita untuk menggapai keberhasilan.

Atau, kita tidak menyalahkan siapa-siapa, tetapi berupaya menipu diri sendiri dengan kebohongan yang manis. Bahwa sejak awal kita tak benar-benar menginginkannya. Seperti seorang pemancing yang berusaha mendapatkan ikan sebesar paha tetapi setelah seharian memancing yang ia dapatkan cuma ikan seukuran pergelangan tangan lalu berkata kepada diri, “Aku memang mengincar ikan ini. Ikan kecil lebih mudah dibawa dan dimasak. Juga, biasanya lebih enak.”

Menyalahkan orang lain dan menipu diri berbagi satu karakter yang sama: keengganan untuk mengakui kesalahan pribadi.

Continue reading Mengakui Kesalahan

Mereka yang Terus Dicetak Ulang

Enam tahun lalu setelah menyelesaikan naskah Novel Tuhan Maha Romantis, saya membayangkan ini: saya akan menghabiskan hari-hari saya bersama tumpukan buku, layar laptop, sekumpulan data riset, dan imajinasi yang antre untuk dituliskan.

Kini hal tersebut bukan lagi sekadar bayangan, melainkan benar-benar telah jadi keseharian. Saya hidup sebagai penulis. Dan menerbitkan buku adalah hal yang rutin saya lakukan paling tidak sekali dalam setahun.

Namun, lucunya, saya masih saja terharu setiap melihat karya lama saya dicetak ulang. Terutama di tahun 2020 ini, saat novel Tuhan Maha Romantis (2014) dicetak ulang yang ke-10 dan novel Konspirasi Semesta (2016) dicetak ulang yang ke-5. Melihat wajah baru mereka, wah, rasanya tak tergambarkan.

Lihatlah … Betapa keduanya tampak indah dan serasi. :’)

Dwilogi Tuhan Maha Romantis dengan wajah baru ini bisa dipesan pada 1-3 Juli 2020. Ada Edisi TTD + Bonus Totebag untuk 500 Pemesan Pertama. Jika kamu berniat mengoleksi, kamu bisa daftar waitinglist dari sekarang.

Caranya, klik tombol ‘Daftar Waitinglist’ di bawah ini:

Yang Terlewatkan

Ada nama yang tak seharusnya kita kenang, tetapi sulit dilupakan. Ia yang pernah singgah di hati, tetapi tiba-tiba pergi tanpa waktu kembali yang pasti. Kita merasa kehilangan, tetapi tak cukup percaya diri untuk benar-benar mencari.

Senyum manis, tatapan teduh, dan semua yang kita ingat tentangnya tertinggal di masa lalu. Sementara waktu cuma mau bergerak maju.

Waktu tak peduli. 
Tak ingin mengerti. 
Dan yang pasti, tak akan pernah bisa diputar kembali.

Terkadang, takdir berbaik hati mempertemukan kembali kita dengannya. Sayangnya, segalanya sudah tak lagi sama. Bahkan ketika rasa masih ada, ia sudah tak lagi punya daya.

Continue reading Yang Terlewatkan

Dipaksa Sembuh

Barang apa yang saat ini begitu kita inginkan? Apakah kita benar-benar menginginkannya? Apakah kita yakin dengan memiliknya, hidup akan jauh lebih bahagia?

Jika saat ini kita bisa mendapatkannya, barangkali betul: kita akan merasa lebih bahagia.

Namun, tahukah kamu? Dalam satu atau tiga bulan ke depan, perasaan kita akan kembali ke keadaan semula. Kita akan menginginkan sesuatu yang lain, dan meyakini bahwa kita akan bahagia jika bisa memilikinya.

Ini adalah siklus yang tidak pernah berakhir.

Untungnya, sepertinya hal ini juga berlaku untuk kesedihan.

Saat merasa kehilangan …
Saat tiba-tiba ditinggalkan …
Saat mengalami keterpisahan …

Continue reading Dipaksa Sembuh

Hal Paling Naif di Dunia

Apa hal paling naif di dunia?

Barangkali, merasa lega melihat seseorang yang kita damba hidup bahagia dalam pelukan orang lain. Kita memaafkannya. Meski, boleh jadi ia pernah meninggalkan luka yang menganga.

Lagi pula, apa bedanya? Membenci, atau tetap mencintainya, adalah dua pekerjaan yang sama-sama membuatnya selalu ada dalam pikiran kita.

Continue reading Hal Paling Naif di Dunia

Ketika Musim Telah Berganti

Pernah ada sepasang manusia yang saling jatuh cinta. Setiap jumpa memicu getar di dada. Senyum sapa menumbuhkan rasa. Dan hidup adalah taman penuh mekar bunga.

Jadilah mereka dua pribadi yang saling menitipkan diri. Menyepakati mimpi-mimpi. Bergenggaman tangan sambil berikrar, “Ini cinta sampai mati.”

Sepasang kehidupan yang saling mencukupkan.

Continue reading Ketika Musim Telah Berganti

Kekasih Sempurna

Tahukah kamu apa yang istimewa dari seorang kekasih? Semakin tak nyata, ia semakin terasa sempurna.

Saat seseorang masih berada di dalam bayangan dan angan-angan, apa yang kita lihat darinya hanyalah apa yang kita damba. Lengkung senyumnya adalah lengkung senyum favorit kita, suaranya terdengar merdu sesuai selera, dan tindak tanduknya adalah apa saja yang menyenangkan hati kita.

Ketika bayangan tentang kekasih itu menjadi nyata, memiliki bentuk, apalagi bisa kita amati dalam jarak yang sangat dekat, tiba-tiba saja kita akan melihat sejuta kekurangannya. Tiba-tiba saja kita mendapat ribuan alasan untuk meninggalkannya.

Continue reading Kekasih Sempurna

Bersyukur itu Mudah

Bersyukur itu mudah. Kamu tak harus lebih dulu mendapatkan apa-apa yang kamu usahakan. Kamu hanya perlu memikirkan kembali apa-apa yang kamu terlahir dengannya.

Ketika kamu mulai bersyukur dengan sungguh-sungguh, kamu akan mendengarkan detak jantungmu. Betapa iramanya menentramkan hati.

Kamu juga mulai merasakan darah mengalir di sepanjang nadimu. Betapa segala aktivitasmu bergantung pada tiap tetesnya.

Lalu, barangkali kamu akan meraba gigi geligimu. Betapa mereka begitu kompak untuk berhenti tumbuh di satu garis setara sehingga membentuk sisi yang rata. Ah, bisakah kamu bayangkan kalau saja gigi-gigi itu terus tumbuh seperti rambut? 

Betapa hidup ini penuh keajaiban.

Continue reading Bersyukur itu Mudah