Kamu Tahu

Kamu barangkali sering merasa cemas. Tetapi, kamu tahu, setiap orang juga merasakan kecemasan. 

Kamu boleh jadi sedang merasa takut. Tetapi, bukankah kamu tahu setiap orang juga punya ketakutan di dalam dirinya?

Berhenti mendramatisasi. 
Berhenti mengasihani diri sendiri.

Sebab, kamu tahu, kamu bisa lebih baik dari ini. Kamu tahu persis, kamu belum mengeluarkan potensi terbaikmu. Kamu juga sudah tahu kesalahan-kesalahan yang harus kamu perbaiki.

Continue reading Kamu Tahu

Sekotak Kado Rahasia

Ada waktu kita jatuh cinta. Ketika tak cukup lagi rasa digema dalam kata. Ketika rembulan selalu tampak bulat sempurna. Ketika duka-duka bisa dilupa. Saat perih pedih luka bisa ditunda untuk sementara. Dan hidup adalah padu padan warna yang begitu bernyawa.

Ada waktu kita patah hati. Hidup serasa permen karet yang telah habis gulanya. Yang tersisa untuk dicecap adalah hambar atau pahit. Hambar atau pahit dan bukan manis. Kita begitu ingin membuangnya, tapi tak punya apa-apa lagi untuk dikunyah. Tak punya topeng untuk terlihat baik-baik saja.

Ada waktu kita harus pergi. Berjalan saling menjauh membawa sekotak koper besar berisi rindu. Tanpa kalimat perpisahan. Tanpa lambai tangan. Dan yang terpedih, tanpa kesepakatan yang menenangkan.

Ada waktu kita saling menunggu. Menebak-nebak keajaiban macam apa yang sudi menghampiri dua manusia penuh dosa yang telanjur jatuh cinta.

Continue reading Sekotak Kado Rahasia

Bahagia adalah Cara Hidup

Kamu sedang lelah berjuang.

Kamu telah merangkak, berjalan, berlari, demi menyusuri jalan panjang yang dulu kamu yakini.

Kamu juga sudah banyak berkorban: waktu, tenaga, pikiran, kesempatan-kesempatan kecil untuk rebahan.

Tetapi, hidup memang tak selalu berjalan sesuai harapan. Rupanya, semakin jauh jalan itu kamu tempuh, semakin tampak itu hanyalah jalan buntu. Apa-apa yang kamu harap ada di sana, apa-apa yang kamu kira akan membuatmu bahagia, ternyata cuma fatamorgana.

Lalu, kamu barangkali mulai berpikir untuk berhenti dan mencari jalan lain.

Tidak apa-apa. Sungguh, tidak apa-apa.

Bahkan jika kamu hendak berputar arah sekarang juga, lakukan saja.

Tak ada yang sia-sia.

Barangkali, Allah ingin memberimu lebih banyak pengalaman. Yang sudah pasti berarti bagimu. Kini, ataupun nanti.

Kita cuma manusia lugu, sementara Allah Continue reading Bahagia adalah Cara Hidup

Di Hadapan Pintu-pintu

Ada yang lebih suka berdiri di depan pintu yang tertutup, sambil berharap suatu waktu pintu itu akan terbuka.

Ia adalah orang yang sudah begitu yakin bahwa di balik pintu itu—dan hanya di balik pintu itu—apa yang ia inginkan berada. Ia memeluk erat harapan dan punya tabungan kesabaran yang cukup untuk menunggu.

Ada yang memilih berkeliling, berkelana, berjumpa dengan banyak pintu.

Jika ada pintu yang terbuka dan tampaklah sesuatu yang indah di dalamnya, ia akan menuju ke sana. Kalau ternyata pintu itu tertutup sebelum ia tiba, ia akan bersedih sebentar, lalu segera beranjak untuk mencari pintu yang lain. Ia percaya, kesempatan adalah harapan dalam bentuk yang paling nyata.

Daripada menunggu, ia memilih berjalan menuju.
Daripada menerka, ia memilih Continue reading Di Hadapan Pintu-pintu

Tahun yang Buru-buru

Ini adalah tahun yang singkat. Rasa-rasanya, baru kemarin menyaksikan aneka perayaan tahun baru, tiba-tiba tahun sudah akan berganti lagi. Sebagian besar resolusi, akan dicanangkan kembali sebagai resolusi.

Ini juga tahun yang buru-buru. Rasa-rasanya, daftar kegiatan harian selalu padat. Tetapi, dasar aku, berleha-leha masih saja sempat. Jadilah beban bertumpuk dan semakin lama semakin berat. Akhirnya, daftar kegiatan harian jadi bertambah padat.

Di antara lingkaran setan itu …

Di sela kepadatan aktivitas itu …

Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat …

Bersama ‘perasaan tertinggal’ yang betah berumah dalam Continue reading Tahun yang Buru-buru

Terbit Desember 2019: Jangan Dulu Patah

Jangan dulu patah. Masih ada waktu. Masih tersedia ruang untuk bergerak dan mencoba. Masih ada kesempatan untuk melakukannya sekali lagi, atau mungkin beberapa kali.

Jangan dulu redup. Nyalakan lagi api harapan di bola matamu. Panggil kembali ingatan-ingatan tentang kesungguhanmu yang dulu. Utuhkan kembali niat mulia yang sempat mengisi penuh hati dan kepalamu, mewarnai siang dan malammu.

Jangan, jangan dulu menyerah. Setidaknya, jangan sekarang. Jangan di usia semuda ini. Nalarmu masih tajam. Jiwamu masih kuat. Tenagamu Continue reading Terbit Desember 2019: Jangan Dulu Patah

Terbuang, Berulang

Kita melihatnya secara tiba-tiba di layar ponsel. Atau mendengarnya secara tak sengaja dari sebuah percakapan. Atau, melihatnya dikenakan oleh seseorang yang kita kagumi. Lalu, tiba-tiba kita ingin memilikinya juga.

Kita mulai menggali semua informasi tentangnya: sejarah, harga, variasi, lebih dan kurangnya, di mana dan bagaimana kita bisa mendapatkannya. Kita tahu harga yang harus dibayarkan tak masuk hitungan, tapi fakta itu selalu kalah oleh keyakinan bahwa memilikinya, dengan cara apa pun, akan mendatangkan kebahagiaan. Dan bukankah kebahagiaan adalah hal terujung yang ingin kita gapai?

Lalu kita memaksakan diri. Kita membelinya, dan senang bukan main ketika hal itu benar-benar kita miliki. Saat itu kita merasa, Continue reading Terbuang, Berulang

Terbit April 2019: Belajar Mencintai

Blogsd

Lima tahun lalu, di penghujung usia 20 tahun, aku menikah. Aku masih berstatus mahasiswa sarjana, sudah berpenghasilan tetapi tidak tetap, bukan anak konglomerat, dan aku … menikah. 10 November 2013, seorang diri aku menginjakkan kaki di Gresik, mengetuk sebuah rumah, dan menyatakan kepada sang pemilik rumah bahwa aku ingin dan akan menikahi anak perempuan cantiknya. Empat bulan kemudian, kami resmi menjadi sepasang suami-istri.

Jika rumah tangga adalah bahtera yang kami naiki untuk menuju Pulau Cita, telah genap lima tahun kami berlayar. Lima tahun itu kira-kira sama dengan 60 purnama, 240 akhir pekan, 1.825 senja, dan 6.570.000 detik. Itu waktu yang telah kami habiskan bersama sebagai sepasang suami-istri. Belum cukup panjang memang, tetapi juga tak bisa dikatakan singkat.

Meski lima tahun terakhir adalah lima tahun terbaik dalam hidupku, perjalanan kami tak selalu mudah. Ada saja gelombang-gelombang yang harus kami taklukkan. Sesekali, bahkan badai datang tanpa tanda atau aba-aba. Untuk itu, suka duka di dalamnya, terutama bagaimana upaya kami membangun hubungan yang Continue reading Terbit April 2019: Belajar Mencintai

Jangan Dulu Patah

Jangan dulu patah. Masih ada waktu. Masih tersedia ruang untuk bergerak dan mencoba. Masih ada kesempatan untuk melakukannya sekali lagi, atau mungkin beberapa kali.

Jangan dulu redup. Nyalakan lagi lampu harapan di bola matamu. Panggil kembali ingatan-ingatan tentang kesungguhanmu yang dulu. Utuhkan kembali niat mulia yang sempat mengisi penuh hati dan kepalamu, mewarnai siang dan malammu.

Jangan, jangan dulu menyerah. Setidaknya, jangan sekarang. Jangan di usia semuda ini. Nalarmu masih tajam. Jiwamu masih kuat. Tenagamu masih berlimpah. Memang belum saatnya kamu hidup nyaman. Memang masih banyak jatah gagal yang Continue reading Jangan Dulu Patah

Orang yang Tepat

Barangkali, kita ini sering salah paham. Kita mengira, untuk menjadi pecinta yang baik, satu-satunya yang dibutuhkan adalah seseorang yang tepat. Seolah-olah, mendapati seseorang yang kita kagumi di sisi kita adalah kunci menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia.

Ini seperti seorang calon koki yang mengira bahwa satu-satunya yang dibutuhkan untuk menjadi koki yang hebat adalah bahan makanan pilihan yang mahal dan berkualitas tinggi. Atau seorang yang ingin jadi pelukis, namun yang dilakukannya hanyalah menunggu objek yang tepat. Dengan begitu, dikiranya, ia bisa mencipta lukisan yang indah.

Padahal, kalau kita belajar memasak dengan baik, lalu menjadi koki yang Continue reading Orang yang Tepat